unugiri.ac.id Bojonegoro – Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) kembali mengirimkan mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) CERDAS Internasional pada 2026. Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, program tersebut tahun ini berfokus pada pengabdian di bidang pendidikan dengan lokasi di Malaysia dan Thailand.
KKN CERDAS Internasional dilaksanakan mulai 29 Agustus hingga 26 September 2026. Di Malaysia, mahasiswa melaksanakan pengabdian pada empat lokasi pendidikan di wilayah Selangor dan Kuala Lumpur yang berada dalam naungan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Sementara di Thailand, mahasiswa ditempatkan pada satu lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren di Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan.
Karakter pengabdian di kedua negara memiliki fokus yang berbeda. Di Malaysia, mahasiswa mendampingi proses pendidikan anak-anak Indonesia. Adapun di Thailand, mahasiswa berinteraksi dan mengajar peserta didik Thailand di lingkungan pendidikan Muslim sekaligus mengenalkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kampus yang mempertemukan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat. Selain memberikan kontribusi melalui kegiatan pendidikan, mahasiswa memperoleh pengalaman berkomunikasi lintas budaya, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan memahami praktik pendidikan di negara lain.
Mendampingi Pendidikan Anak-Anak Indonesia di Malaysia
Kegiatan mahasiswa di Malaysia diarahkan untuk membantu proses pembelajaran anak-anak Indonesia melalui Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Mahasiswa UNUGIRI ditempatkan pada empat lokasi pendidikan di wilayah Selangor dan Kuala Lumpur.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa membantu kegiatan pengajaran dan pendampingan belajar sesuai kebutuhan peserta didik dan lembaga. Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai program studi memungkinkan kegiatan dikembangkan melalui penguatan literasi, kemampuan berbahasa, pendidikan karakter, kreativitas, serta aktivitas edukatif lainnya.
Kehadiran mahasiswa UNUGIRI juga diharapkan memberikan motivasi bagi anak-anak Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Malaysia. Interaksi sesama warga Indonesia menjadi ruang untuk memperkuat kedekatan dengan tanah air melalui pendidikan, bahasa, budaya, dan wawasan kebangsaan.
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut memberikan perspektif bahwa pengabdian kepada masyarakat juga dapat diarahkan untuk mendukung pendidikan warga Indonesia yang berada di luar negeri.
Mengajar di Lingkungan Muslim Thailand Selatan
Pengabdian di Thailand memiliki karakter berbeda. Mahasiswa ditempatkan pada lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren di Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, dan berinteraksi secara langsung dengan peserta didik Thailand.
Selain membantu kegiatan pembelajaran, mahasiswa UNUGIRI mengenalkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah melalui kegiatan pendidikan, keagamaan, keteladanan, dan interaksi sosial.
Lingkungan masyarakat Muslim di Thailand Selatan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan Islam di negara lain. Pada saat yang sama, mahasiswa dapat berbagi pengalaman mengenai tradisi pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat Muslim Indonesia.
Interaksi tersebut menjadikan KKN tidak hanya sebagai kegiatan mengajar, tetapi juga sebagai proses pertukaran pengalaman dan pembelajaran lintas budaya antara mahasiswa UNUGIRI dengan masyarakat setempat.
Rektor: Pengalaman Internasional Harus Memperluas Wawasan Mahasiswa
Rektor UNUGIRI, Dr. M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I., mengatakan bahwa keberlanjutan KKN Internasional hingga tahun ketiga merupakan bagian dari upaya universitas memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada mahasiswa.
“Kampus harus memberikan ruang kepada mahasiswa untuk belajar tidak hanya dari dosen dan ruang kelas, tetapi juga dari masyarakat dan lingkungan yang berbeda. Melalui KKN Internasional, mahasiswa mengalami secara langsung bagaimana berkomunikasi, beradaptasi, dan bekerja dalam konteks sosial serta budaya yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Jauharul Ma’arif, pengalaman internasional tersebut penting untuk membentuk mahasiswa yang memiliki wawasan luas tanpa kehilangan identitasnya sebagai bagian dari UNUGIRI.
“Mahasiswa harus memiliki wawasan global, tetapi tetap memiliki karakter dan nilai yang menjadi identitasnya. Ketika berada di luar negeri, mereka bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama UNUGIRI dan Indonesia,” jelasnya.
Ia menilai fokus KKN pada sektor pendidikan memiliki nilai strategis karena pendidikan merupakan salah satu ruang pengabdian yang dapat memberikan manfaat jangka panjang.
“Ketika mahasiswa membantu proses pendidikan, yang diberikan bukan hanya pengetahuan pada saat kegiatan berlangsung. Ada motivasi, pengalaman, dan nilai yang dapat terus tumbuh pada peserta didik. Karena itu, kami berharap mahasiswa benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan kontribusi terbaik,” katanya.
Rektor juga berharap pengalaman selama berada di Malaysia dan Thailand tidak berhenti setelah mahasiswa kembali ke Indonesia.
“Bawa pulang pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan praktik baik yang ditemukan selama KKN. Pengalaman internasional akan menjadi lebih bermakna ketika dapat dikembangkan kembali untuk memberikan manfaat bagi kampus dan masyarakat,” pesannya.
Kepala LPPM: Pengabdian Harus Menghadirkan Dampak
Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUGIRI, Dr. M. Ivan Ariful Fathoni, M.Si., menekankan bahwa KKN CERDAS Internasional tidak semata-mata menjadi kegiatan akademik yang harus diselesaikan mahasiswa, tetapi harus menghasilkan manfaat bagi mitra tempat pengabdian.
“Mahasiswa jangan hanya melihat KKN sebagai kewajiban akademik atau sekadar pengalaman pergi ke luar negeri. Ukuran pentingnya adalah seberapa jauh kehadiran mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi tempat mereka mengabdi,” ujarnya.
Menurut Ivan, perbedaan karakter lokasi di Malaysia dan Thailand membuat bentuk kontribusi mahasiswa juga perlu disesuaikan.
“Di Malaysia, mahasiswa kita hadir untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia. Ini penting karena mereka adalah bagian dari generasi bangsa yang sedang tumbuh dan menempuh pendidikan di luar negeri. Mahasiswa kita diharapkan hadir sebagai pengajar, pendamping, sekaligus kakak yang dapat memberikan motivasi kepada mereka,” jelasnya.
Sementara di Thailand, menurutnya, mahasiswa memiliki ruang pengabdian yang berbeda karena berinteraksi dengan peserta didik Thailand di lingkungan masyarakat Muslim.
“Di Narathiwat, mahasiswa berhadapan dengan anak-anak Thailand. Mereka membantu proses pendidikan sekaligus mengenalkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah melalui cara yang baik, melalui pembelajaran, keteladanan, dan interaksi. Jadi, bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menunjukkan nilai melalui sikap,” katanya.
Ivan menambahkan bahwa orientasi tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yakni bagaimana kegiatan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Dampak tidak selalu harus berupa program besar. Ketika mahasiswa mampu membantu anak memahami pelajaran, meningkatkan motivasi belajar, menghadirkan metode pembelajaran yang menarik, atau meninggalkan praktik baik yang dapat dilanjutkan oleh mitra, itu juga merupakan dampak,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak cukup diukur berdasarkan jumlah program kerja yang terlaksana.
“Yang perlu kita lihat bukan hanya berapa kegiatan yang selesai, tetapi apa perubahan dan manfaat yang dirasakan mitra. Di sisi lain, mahasiswa juga harus pulang dengan pengetahuan dan cara pandang baru. Di situlah pengabdian dan pembelajaran bertemu,” tuturnya.
Tahun Ketiga KKN Internasional UNUGIRI
Pelaksanaan pada 2026 menandai tahun ketiga UNUGIRI mengirimkan mahasiswa dalam program KKN Internasional. Keberlanjutan program tersebut menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman pengabdian di lingkungan internasional.
KKN CERDAS Internasional tahun ini diikuti mahasiswa dari sejumlah program studi, di antaranya Pendidikan Agama Islam, Hukum Ekonomi Syariah, Bimbingan dan Konseling, Farmasi, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, serta Bahasa dan Sastra Arab.
Keberagaman bidang keilmuan peserta menjadi modal dalam pelaksanaan pengabdian. Mahasiswa dapat berkolaborasi dan menerapkan kompetensinya sesuai kebutuhan lembaga serta peserta didik di masing-masing lokasi.
Pelaksanaan di Malaysia dan Thailand juga memberikan dua pengalaman pengabdian yang berbeda. Mahasiswa di Malaysia memperoleh pengalaman mendampingi pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri, sedangkan mahasiswa di Thailand mendapatkan pengalaman mengajar dalam lingkungan masyarakat Muslim dengan latar sosial dan budaya yang berbeda.
Dari Pengabdian Menuju Pembelajaran yang Berdampak
KKN CERDAS Internasional UNUGIRI 2026 menunjukkan bahwa pembelajaran mahasiswa dapat berlangsung melalui keterlibatan langsung dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Pendidikan menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu sekaligus membangun hubungan dengan masyarakat di negara tempat mereka mengabdi.
Selama pelaksanaan hingga 26 September 2026, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan program secara adaptif sesuai kebutuhan masing-masing lokasi serta membangun hubungan baik dengan lembaga mitra dan masyarakat.
Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai catatan perjalanan internasional. Apa yang dipelajari dari sistem pendidikan, masyarakat, budaya, dan praktik baik di Malaysia maupun Thailand dapat menjadi bekal yang dibawa kembali ke kampus.
Dengan memasuki tahun ketiga pelaksanaan, KKN CERDAS Internasional terus diarahkan sebagai ruang yang mempertemukan pembelajaran, pengabdian, pengalaman internasional, dan kebermanfaatan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar untuk masyarakat, tetapi juga belajar dari masyarakat.

