UKM Tari Tantra Sahitya Gelar Narayana 2026, Angkat Semangat Pelestarian Budaya di Kalangan Generasi Muda

unugiri.id Bojonegoro – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Tantra Sahitya Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro sukses menyelenggarakan Kompetisi Tari Kreasi Tradisional Tingkat Nasional Narayana 2026 pada Minggu (31/5/2026) di Auditorium KH. Hasyim Asy’ari Lantai 3 Gedung Rektorat UNUGIRI. Mengusung tema “Nafas Ragam Budaya Nasional”, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang apresiasi bagi generasi muda dalam melestarikan seni tari tradisional Indonesia.

Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai daerah tersebut menghadirkan beragam penampilan tari kreasi tradisional yang memadukan nilai budaya, kreativitas, dan inovasi. Sejak memasuki arena perlombaan, suasana kental dengan nuansa budaya Nusantara yang ditampilkan melalui kostum, musik pengiring, serta gerak tari yang beragam.

Dorong UKM Gelar Kegiatan Berskala Nasional

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Keagamaan UNUGIRI, Dr. Ahmad Nurul Huda, M.H.I. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi kepada UKM Tari Tantra Sahitya yang mampu menghadirkan kompetisi berskala nasional.

“Ini menjadi inspirasi bagi seluruh UKM di lingkungan UNUGIRI. Saya berharap teman-teman mahasiswa berani merealisasikan idealisme dan gagasannya melalui kegiatan-kegiatan yang memiliki dampak luas, termasuk kegiatan berskala nasional seperti yang dilaksanakan hari ini,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan mahasiswa tidak hanya menjadi sarana pengembangan bakat, tetapi juga wadah untuk membangun jejaring, memperkuat organisasi, dan meningkatkan citra institusi di tingkat yang lebih luas.

Tari Memiliki Perjalanan Panjang dalam Peradaban

Dalam kesempatan tersebut, Nurul Huda juga menjelaskan bahwa seni tari memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah dan peradaban manusia.

“Suasana lomba tari sangat terasa begitu memasuki hall ini. Tari merupakan bagian dari identitas kita. Jika melihat sejarahnya, tari telah mengalami banyak fungsi. Pada masa awal digunakan sebagai media ritual, kemudian berkembang menjadi hiburan di lingkungan istana, hiburan rakyat, hingga menjadi alat perjuangan yang membangkitkan semangat masyarakat pada masa kolonial,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan zaman telah menghadirkan transformasi baru terhadap fungsi seni tari yang kini tidak hanya berperan sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi sarana komunikasi budaya.

“Ada transformasi fungsi yang luar biasa. Hari ini tari bahkan menjadi media diplomasi dan komunikasi antarbangsa. Seni budaya menjadi salah satu cara memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia,” tambahnya.

Generasi Z Jadi Harapan Pelestarian Budaya

Lebih lanjut, Nurul Huda menilai keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan seni tari merupakan sebuah capaian yang patut diapresiasi, terutama di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

“Ini merupakan prestasi tersendiri ketika seni tari tetap dipraktikkan dan dikembangkan oleh generasi muda. Di tengah berbagai tantangan zaman, mereka masih memiliki kepedulian untuk menjaga eksistensi budaya bangsa,” katanya.

Ia mengajak mahasiswa untuk terus merawat dan mengembangkan warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga keberlangsungannya.

“UNUGIRI memiliki prinsip al-muhafadzatu ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, menjaga tradisi yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, budaya perlu kita rawat, kita kembangkan, dan kita besarkan. Bahkan seni budaya dapat menjadi media dakwah yang efektif di tengah masyarakat,” tutupnya.

Ruang Apresiasi dan Pelestarian Budaya

Melalui Narayana 2026, UKM Tari Tantra Sahitya UNUGIRI tidak hanya menghadirkan ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran dan apresiasi budaya bagi generasi muda. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa seni tradisional tetap memiliki tempat di hati generasi muda serta mampu berkembang secara kreatif tanpa kehilangan akar budayanya.

Leave a Reply

Pilih Bahasa »