Menristekdikti Ajak Unugiri Hadapi Revolusi Industri 4.0

Menristekdikti Ajak Unugiri Hadapi Revolusi Industri 4.0

 

Menristekdikti beri tiga buah laptop kepada tiga mahasiswa dengan IPK tertinggi

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir hadir dalam kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama dan Isntitut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro, Minggu (3/6/2018). Ia mengisi kuliah umum dengan tema ‘Kebijakan Nasional Pendidikan Tinggi Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0’.

Mohammad Nasir mengungkapkan, pendidikan di Indonesia sedang menghadapi kondisi era revolusi industri 4.0 yang cukup merepotkan. Era baru dalam dunia ini memerlukan kebijakan berbeda di perguruan tinggi. Sebab pada era revolusi industri 4.0 pendidikan tidak lagi menciptakan batas, lantaran mengingat adanya kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK).

“Kita sudah tidak bisa lagi menghindari kemajuan internet, sistem cloud computing, media, persaingan. Bahkan, negara dengan penduduk jumlah besar belum pasti yang akan menang dalam persaingan tetapi negara dengan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghasilkan inovasi yang akan menang,” terangnya saat memberi penjelasan kepada sekitar 200 Mahasiswa tersebut.

Posisi Indonesia sendiri, berada di jalur yang tepat untuk menjalankan revolusi industri 4.0 namun belum mampu ‘berlari kencang’ menyusul negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand. Serta Indonesia harus berhati-hati dengan dengan negara-negara tersebut, sehingga kompetisi dan kompetensi harus diperkuat.

“Pada tahun 2019 mendatang kita harus bisa melampaui Malaysia dan insaallah kita bisa melampaui negeri jiran itu,” lanjut Nasir.

Selain itu dirinya berencana akan menerapkan program fast track S1, yaitu progam jenjang S1 bisa ditempuh dalam waktu tiga tahun, dengan menyinergikan pembelajaran di semester tujuh pada jenjang S2. Sehingga, jenjang S2 dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu tahun. Selanjutnya menurut Nasir, tesis mahasiswa S2 akan diarahkan agar sesuai jenjang studi S3.

Sehingga dengan percepatan itu, dari S1 sampai S3 bisa menghemat waktu belajar beberapa tahun. Jadi maksimal di usia 25 tahun mahasiswa itu sudah mendapat gelar doktor. Dengan cara itu Nasir berharap, kekurangan peneliti atau professor saat ini bisa diatasi dengan percepatan cara tetsebut.

“Oleh karena itu peran mahasiswa diperguruan tingg sangat penting untuk mewujudkannya, serta mahasiswa harus bisa menguasai Imformasi dan Tekhnologi,” pungkas mantan pria yang juga mantan Rektor ini.

(Disadur dari blokbojonegoro.com)