Lawatan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A.

  • -

Lawatan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A.

Category : Uncategorized

Lawatan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A.

BOJONEGORO, Unugiri.ac.id.– Mendung siang itu bisa jadi bergelayut di langit bumi Angling Dharma, tapi tidak dengan semangat seluruh civitas akademika IAI Sunan Giri dan Unugiri Bojonegoro. Pasalnya, siang itu (11/12) Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A. hadir dalam seminar nasional di gedung serbaguna Bojonegoro.

Syaiful Anwar, moderator seminar bertema Islam Nusantara solusi radikalisme ini membuka acara dengan menceritakan tentang radikalisme dari segi historis Islam.

Sebagai pembicara pertama, Dr. H. Mundzar Fahman, M.M., mendefinisikan radikalisme sebagai corak pemikiran yang hendak mengganti ideologi tertentu walaupun dengan jalan kekerasan. Ia menegaskan bahwa nama baik Islam dirusak oleh aksi terorisme. “Ini bertentangan dengan konsep Islam rahmatan lil ‘alamin,” tegas mantan rektor Unugiri itu.

Sebagai pembicara kedua, Agus Sholahuddin, membeberkan tentang geopolitik dan pergerakan trans nasional. Ia juga menceritakan tentang sejarah radikalisme saat perang antara Sayidina Ali dan Muawiyah. Dewan pakar Aswaja center NU Bojonegoro itu kemudian menjelaskan tentang Arab Spring dan pergulatan politiknya. “Hari ini sejarah terulang. Dengan pola yang mirip, ada aktor-aktor yang memang menginginkan deligitimasi melalui propaganda dengan menciptakan ketidakpercayaan pada pemerintah,” jelasnya.

Acara yang sempat terhenti sekejap karena hujan angin itu juga dihadiri oleh bupati Bojonegoro, ketua DPRD, kepala Kemenag, Kapolres, Kapolsek, Dandim, ketua syuriah, PCNU, majelis wakil cabang NU seluruh kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, Muslimat, Ansor, fatayat, dan tamu undangan lainnya.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari ketua BPPTNU Bojonegoro, Drs. H. Muslih Fattah, S.H., M.Hum. dan ketua Tanfidziah PCNU Bojonegoro, dr. H. Cholid Ubed, Sp. PD.

“Timur tengah gagal dalam membangun kebersamaan. Secara individu, banyak orang pintar di sana. Tapi untuk membangun tatanan budaya politik dan agama, mereka gagal. Sedangkan, Indonesia dengan keberagaman berhasil hidup dengan harmonis. Indonesia tidak termasuk yg diprediksi oleh Samuel Huntington, bahwa keberagaman tidak menjadi masalah. Artinya kita sudah memiliki struktur yg sangat ideal,” tegas Said Aqil disambut gemuruh tepuk tangan peserta seminar.

“NU tidak terpengaruh sedikitpun dengan prediksi Samuel P Huntington yang mengatakan bahwa agama dan budaya adalah penyebab perpecahan di suatu negara. NU hadir untuk mengawinkan agama dan budaya,” lanjutnya.

Menutup acara, Yogi Prana Izza, Lc., M.A. menyimpulkan diskusi bahwa Indonesia sudah selesai dengan masalah agama dan nasionalisme. Sedangkan, Timur tengah sedang menyelesaikan masalah ini. Jadi ideologi tersebut tidak perlu dibawa ke Indonesia.

Sebagai ketua umum PBNU, Said Aqil siap menggempur radikalisme di kalangan mahasiswa dan kampus. Sesuai tema seminar, Islam Nusantara bisa menjadi solusi radikalisme. [Apr/Unu]